
Jakarta – Insiden tragis yang menewaskan tiga pekerja saat melakukan pemeriksaan gorong-gorong di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, menyisakan kesaksian dari warga sekitar. Seorang saksi bernama Ferdi (31) menceritakan suasana panik yang terjadi ketika para pekerja berusaha menyelamatkan rekannya yang lebih dulu kehilangan kesadaran di dalam saluran tersebut.
Menurut Ferdi, peristiwa bermula ketika salah seorang pekerja turun ke dalam gorong-gorong untuk menjalankan tugas. Setelah beberapa saat, korban tidak lagi memberikan respons saat dipanggil oleh rekan-rekannya yang berada di permukaan.
Karena tidak mendapat jawaban, salah satu rekannya memutuskan masuk ke dalam gorong-gorong dengan tujuan memberikan pertolongan. Namun, upaya tersebut justru berujung petaka karena pekerja kedua juga tidak kembali ke atas.
Ferdi mengungkapkan, seorang pekerja warga negara asing (WNA) yang diduga menjadi mandor proyek tampak panik ketika kedua pekerja itu tak kunjung muncul. Ia berteriak meminta bantuan kepada warga sekitar, tetapi kesulitan berkomunikasi karena kendala bahasa.
Meski warga telah memperingatkan agar tidak ikut turun ke dalam gorong-gorong, pekerja WNA tersebut tetap memutuskan masuk. Ferdi menduga keputusan itu diambil karena yang bersangkutan merasa bertanggung jawab terhadap keselamatan para pekerjanya.
Tak lama setelah masuk, suara teriakan sempat terdengar dari dalam gorong-gorong. Namun setelah itu suasana kembali hening dan tidak ada lagi respons dari pekerja tersebut.
Seorang pekerja lainnya kemudian mencoba melakukan penyelamatan dengan turun ke lokasi yang sama. Warga kembali berusaha mencegah tindakan tersebut sambil menunggu kedatangan petugas pemadam kebakaran, tetapi peringatan itu tidak dihiraukan. Pekerja ketiga akhirnya ikut kehilangan kesadaran.
Melihat kondisi tersebut, warga segera menghubungi petugas pemadam kebakaran untuk melakukan evakuasi. Menurut Ferdi, ketika tim penyelamat tiba di lokasi, ketiga korban sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Ferdi juga mengingat adanya prosedur berbeda yang pernah diterapkan pada pekerjaan serupa sebelumnya. Saat itu, penutup gorong-gorong sengaja dibuka selama kurang lebih tiga jam agar gas yang berada di dalam saluran keluar terlebih dahulu sebelum pekerja mulai turun.
Ia mengaku pernah mencium aroma menyengat dari dalam gorong-gorong saat proses tersebut berlangsung. Karena itu, ia menduga keberadaan gas di dalam saluran menjadi salah satu risiko yang sudah diketahui sejak awal sebelum insiden maut tersebut terjadi.
Kasus ini masih dalam penyelidikan pihak berwenang untuk memastikan penyebab pasti meninggalnya ketiga pekerja, termasuk kemungkinan adanya paparan gas berbahaya di dalam gorong-gorong.
