
Jakarta – Makanan cepat saji menjadi pilihan praktis ketika sedang sibuk atau ingin makan tanpa perlu menunggu lama. Rasanya yang gurih, harga relatif terjangkau, dan mudah ditemukan membuat fast food digemari banyak orang.
Meski sesekali mengonsumsi makanan cepat saji masih dapat menjadi bagian dari pola makan yang seimbang, kebiasaan menyantapnya terlalu sering perlu diperhatikan. Pasalnya, sejumlah menu fast food umumnya mengandung kalori, natrium, gula tambahan, dan lemak jenuh yang cukup tinggi.
Di sisi lain, makanan tersebut cenderung lebih rendah serat serta sejumlah vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
Ahli gizi Nicole Rodriguez menjelaskan bahwa terlalu sering mengandalkan makanan cepat saji dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan, mulai dari berat badan hingga kadar gula dan kolesterol.
Dikutip dari Eat This Not That, berikut sejumlah dampak yang dapat muncul ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji.
1. Berat Badan Lebih Mudah Bertambah
Burger, kentang goreng, minuman bersoda, dan berbagai menu pendamping dapat menghasilkan asupan kalori yang cukup besar dalam satu kali makan.
Jumlahnya akan semakin tinggi jika memilih makanan dalam ukuran besar atau menambahkan minuman manis dan makanan penutup.
Apabila kalori yang masuk secara konsisten melebihi kebutuhan energi tubuh, kelebihan tersebut dapat disimpan sebagai lemak. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko obesitas.
2. Asupan Natrium Bisa Berlebihan
Salah satu kandungan yang perlu diperhatikan dari makanan cepat saji adalah natrium. Saus, daging olahan, kentang goreng, keju, dan berbagai bumbu dapat menyumbang natrium dalam jumlah cukup tinggi.
Sebagai gambaran, satu paket makanan yang terdiri dari burger, kentang goreng, dan milkshake dapat mengandung lebih dari 1.500 miligram natrium.
Sementara itu, Dietary Guidelines for Americans 2020-2025 merekomendasikan agar konsumsi natrium untuk sebagian besar orang dewasa tidak melebihi 2.300 miligram per hari.
Asupan natrium yang terlalu tinggi dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular dan stroke.
3. Tubuh Bisa Kekurangan Serat
Makanan cepat saji umumnya tidak menyediakan banyak serat, terutama jika menu sehari-hari lebih banyak terdiri dari daging olahan, roti putih, kentang goreng, serta makanan tinggi lemak.
Padahal, serat penting untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan. Nicole Rodriguez merekomendasikan sekitar 14 gram serat untuk setiap 1.000 kalori yang dikonsumsi.
Buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh merupakan sumber serat yang lebih baik. Jika bahan-bahan tersebut jarang dikonsumsi karena terlalu sering memilih fast food, kebutuhan serat harian akan lebih sulit terpenuhi.
Asupan serat yang rendah dapat menyebabkan sembelit dan tidak ideal bagi kesehatan pencernaan dalam jangka panjang.
4. Kadar Kolesterol Dapat Meningkat
Lemak jenuh juga menjadi salah satu komponen yang perlu diperhatikan dalam menu fast food.
Mengonsumsi lemak jenuh secara berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL atau yang sering disebut sebagai kolesterol jahat.
Dietary Guidelines for Americans merekomendasikan agar lemak jenuh tidak menyumbang lebih dari 10% total kalori harian.
Karena beberapa menu makanan cepat saji dapat mengandung lemak jenuh dalam jumlah tinggi, terlalu sering mengonsumsinya dapat membuat asupan harian lebih mudah melampaui batas tersebut.
5. Nutrisi Penting Tidak Terpenuhi
Mengonsumsi fast food sesekali tentu berbeda dengan menjadikannya sebagai sumber makanan utama setiap hari.
Jika sebagian besar makanan sehari-hari berasal dari restoran cepat saji, tubuh berisiko tidak memperoleh cukup berbagai nutrisi penting.
Beberapa zat gizi yang berpotensi kurang antara lain serat, kalsium, vitamin D, dan kalium.
Kalium misalnya banyak ditemukan dalam buah dan sayuran yang belum tentu menjadi bagian utama dari menu fast food. Begitu pula vitamin D dan kalsium yang membutuhkan sumber makanan lebih beragam untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
6. Bisa Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2
Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji secara rutin juga dapat berdampak pada kesehatan metabolik.
Sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara konsumsi fast food yang sering dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 serta gangguan metabolisme lainnya.
Risikonya dapat semakin menjadi perhatian ketika makanan cepat saji menggantikan makanan yang lebih kaya sayuran, biji-bijian utuh, dan protein rendah lemak.
Pola makan yang tidak seimbang juga dapat membuat asupan kalori, gula, dan lemak lebih sulit dikendalikan.
Tak Harus Dihindari Sepenuhnya
Makanan cepat saji sebenarnya tidak harus dihapus sepenuhnya dari menu. Yang lebih penting adalah memperhatikan frekuensi, porsi, dan pilihan menu.
Jika ingin tetap menikmati fast food, imbangi dengan sayuran, buah, sumber protein yang lebih sehat, serta makanan tinggi serat pada waktu makan lainnya. Minuman tinggi gula juga sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering.
Jadi, masalah utamanya bukan sekadar makan fast food sekali-sekali, melainkan ketika makanan tersebut menjadi kebiasaan dan menggantikan pola makan yang beragam. Mengatur frekuensi dan porsi dapat membantu menjaga pola makan tetap seimbang.
