
Jakarta – Label “sehat” pada kemasan makanan tidak selalu berarti produk tersebut bisa dikonsumsi tanpa batas. Beberapa makanan yang populer sebagai pilihan sehat ternyata perlu diperhatikan kandungan gula, bahan tambahan, serta tingkat pengolahannya.
Seorang dokter jantung asal California, Dr. Sanjay Bhojraj, menyoroti sejumlah makanan yang menurutnya sering mendapatkan citra sehat, padahal komposisinya perlu dicermati.
Ia membahas lima produk, mulai dari yogurt berperisa hingga protein bar. Sebagian produk tersebut dapat masuk kategori ultra-processed food (UPF), yakni makanan yang mengalami pemrosesan cukup intensif dan biasanya mengandung berbagai bahan tambahan.
Dikutip dari DailyMailUK, berikut makanan yang menurut Bhojraj perlu diperhatikan konsumsinya.
1. Yogurt dengan Tambahan Rasa
Yogurt sering dipilih karena mengandung protein dan dapat menjadi sumber nutrisi yang baik. Namun, tidak semua yogurt memiliki komposisi yang sama.
Yogurt dengan tambahan rasa atau pemanis dapat mengandung gula cukup tinggi. Karena itu, produk yang terlihat sehat belum tentu menjadi pilihan terbaik jika dikonsumsi dalam jumlah besar setiap hari.
Salah satu pilihan yang lebih sederhana adalah Greek yogurt plain tanpa tambahan gula. Untuk memberikan rasa, yogurt dapat dipadukan dengan buah segar, kacang, atau sedikit kayu manis.
Dengan cara tersebut, kandungan gula tambahan dapat lebih mudah dikontrol sekaligus menambah asupan serat dan nutrisi lainnya.
2. Protein Bar
Protein bar memang praktis, terutama bagi orang yang membutuhkan camilan cepat setelah beraktivitas. Namun, kandungan tiap produk sangat berbeda.
Sebagian protein bar mengandung sirup, pemanis, minyak, serta berbagai bahan tambahan. Ada produk yang memang tinggi protein dan rendah gula, tetapi ada pula yang komposisinya lebih menyerupai camilan manis.
Karena itu, jangan hanya terpaku pada tulisan “high protein” di bagian depan kemasan. Periksa jumlah protein, gula tambahan, kalori, dan daftar bahan sebelum membeli.
Untuk camilan sehari-hari, makanan utuh seperti telur, kacang-kacangan, atau biji-bijian juga dapat menjadi sumber protein yang praktis.
3. Keripik Sayuran
Keripik berbahan sayuran terdengar lebih sehat dibandingkan keripik biasa. Namun, bahan dasarnya bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan.
Proses pengolahan, minyak yang digunakan, jumlah garam, serta ukuran porsinya turut menentukan kualitas makanan tersebut.
Beberapa produk keripik sayur dibuat dengan proses penggorengan dan dapat mengandung cukup banyak lemak serta natrium. Karena itu, menganggap semua keripik sayur otomatis lebih sehat daripada keripik kentang tidak tepat.
Alternatifnya, irisan ubi, wortel, atau sayuran lainnya dapat dipanggang sendiri di rumah dengan penggunaan minyak dan garam yang lebih terkontrol.
4. Produk Diet dan Minuman Tanpa Gula
Makanan atau minuman berlabel “diet”, “zero sugar”, atau “sugar-free” sering dianggap sebagai pilihan paling sehat. Padahal, label tersebut hanya menunjukkan karakteristik tertentu dari produk, bukan jaminan bahwa seluruh komposisinya lebih sehat.
Produk tanpa gula dapat menggunakan pemanis rendah atau tanpa kalori seperti aspartam, sukralosa, atau jenis pemanis lainnya. Respons tubuh terhadap pemanis tersebut dapat berbeda-beda.
Beberapa penelitian memang sedang mengkaji hubungan konsumsi pemanis tertentu dengan kesehatan metabolik dan kardiovaskular. Namun, hubungan tersebut tidak berarti semua pemanis buatan secara langsung menyebabkan diabetes atau penyakit jantung.
Jika ingin mengurangi rasa manis, pilihan yang lebih sederhana adalah mengurangi frekuensi konsumsi makanan dan minuman manis secara keseluruhan serta memilih buah utuh sebagai sumber rasa manis alami.
5. Minyak Biji-Bijian
Minyak dari biji tanaman seperti kedelai, kanola, bunga matahari, dan jagung banyak digunakan dalam industri makanan maupun kegiatan memasak.
Bhojraj menyarankan agar penggunaannya dibatasi dan lebih memilih sumber lemak lain seperti minyak zaitun atau minyak alpukat.
Namun, anggapan bahwa semua minyak biji-bijian otomatis berbahaya bagi jantung masih menjadi perdebatan. Jenis lemak, cara memasak, jumlah yang digunakan, serta keseluruhan pola makan jauh lebih penting untuk diperhatikan.
Minyak yang kaya lemak tak jenuh, termasuk sejumlah minyak nabati, justru dapat menjadi bagian dari pola makan sehat ketika digunakan dalam jumlah wajar dan menggantikan sumber lemak jenuh.
Jangan Terjebak Label “Sehat”
Lima makanan tersebut tidak harus sepenuhnya dihilangkan dari menu. Hal yang lebih penting adalah memahami komposisinya dan menyesuaikan porsinya.
Yogurt tetap bisa menjadi pilihan bernutrisi selama memilih produk dengan gula tambahan yang lebih rendah. Protein bar dapat berguna sebagai camilan praktis jika kandungannya sesuai kebutuhan. Begitu pula keripik sayur dan produk diet yang dapat dikonsumsi sesekali dengan memperhatikan komposisinya.
Pada akhirnya, kesehatan tidak ditentukan oleh satu makanan. Pola makan secara keseluruhan, ukuran porsi, aktivitas fisik, kualitas tidur, serta kebiasaan hidup lainnya memiliki pengaruh yang jauh lebih besar.
Jadi, daripada langsung menghindari makanan hanya karena disebut “tidak sehat”, biasakan membaca label nutrisi dan memilih makanan yang minim pemrosesan serta lebih kaya protein, serat, vitamin, dan mineral.
