
Jakarta – Kasus ditemukannya boraks pada makanan kembali menjadi sorotan setelah insiden dugaan keracunan pada program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau. Peristiwa tersebut memunculkan kembali pertanyaan mengenai apa itu boraks dan mengapa zat ini dapat membuat makanan terasa lebih kenyal.
Dilaporkan, ratusan siswa di Air Asuk, Kabupaten Kepulauan Anambas, mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG. Berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Gizi Nasional (BGN), sejumlah makanan diketahui mengandung boraks sekaligus terkontaminasi bakteri.
Hasil uji cepat menemukan kandungan boraks pada beberapa menu, seperti telur kecap, tempe goreng, dan tumis sayuran. Kadar boraks yang terdeteksi berkisar antara 100 hingga 5.000 mg/L.
Menjelaskan mengenai zat tersebut, Harry Nazarudin, penulis yang mendalami bidang kimia pangan atau yang dikenal sebagai Kang Harnaz, mengatakan bahwa boraks merupakan bentuk terhidrasi dari natrium borat dengan rumus kimia Na₂H₂₀B₄O₁₇.
Menurutnya, boraks merupakan mineral yang dapat ditemukan secara alami di alam dan selama ini dimanfaatkan untuk berbagai keperluan industri, seperti bahan pestisida maupun pengawet nonpangan. Karena itu, penggunaannya sebagai bahan tambahan makanan tidak diperbolehkan.
Kang Harnaz menjelaskan, boraks mampu menghasilkan tekstur yang lebih kenyal karena bereaksi dengan air serta komponen pati atau kanji yang terdapat pada makanan. Reaksi tersebut membuat struktur makanan menjadi lebih padat, elastis, dan tidak mudah hancur meski dimasak dalam waktu lama.
Sifat inilah yang membuat boraks kerap disalahgunakan pada sejumlah produk pangan, seperti bakso, mi, kerupuk, lontong, siomay, dan berbagai makanan berbahan tepung lainnya.
Sayangnya, keberadaan boraks sulit dikenali secara kasat mata. Zat ini tidak memiliki aroma maupun rasa khas sehingga makanan yang mengandung boraks sering kali tampak normal saat dikonsumsi.
Padahal, paparan boraks secara berulang dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Dalam jangka panjang, konsumsi zat ini berpotensi menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, hingga gangguan pada sistem pernapasan dan organ tubuh lainnya.
Oleh karena itu, masyarakat disarankan lebih berhati-hati dalam memilih makanan serta membeli produk dari penjual yang terpercaya untuk meminimalkan risiko mengonsumsi bahan tambahan pangan yang berbahaya.
