
Jakarta – Kebersihan makanan tidak hanya bergantung pada bahan yang digunakan dan cara memasaknya. Peralatan dapur yang dipakai sehari-hari juga perlu diperhatikan karena material tertentu berpotensi melepaskan zat yang dapat berpindah ke makanan.
Saat ini tersedia berbagai perlengkapan memasak dengan material berbeda, mulai dari plastik, aluminium, stainless steel, kaca, hingga lapisan antilengket. Penggunaan yang tidak tepat, terutama pada alat yang sudah rusak atau terkena panas berlebihan, dapat meningkatkan risiko paparan zat tertentu.
Dr. Alok Chopra, ahli jantung dari Maulana Azad Medical College, New Delhi, India, pernah menyoroti sejumlah peralatan dapur yang menurutnya perlu digunakan dengan lebih hati-hati.
Dikutip dari Times of India, berikut lima peralatan yang perlu diperhatikan.
1. Wadah Plastik
Wadah plastik memang praktis untuk menyimpan makanan. Namun, penggunaan wadah yang sudah lama, rusak, atau memiliki kualitas rendah perlu dihindari.
Beberapa produk plastik dapat mengandung senyawa seperti BPA, BPS, dan ftalat. Risiko paparan dapat meningkat ketika wadah digunakan untuk makanan panas, berminyak, atau asam.
Memanaskan wadah plastik di microwave juga sebaiknya tidak dilakukan kecuali produk tersebut memang dinyatakan aman untuk penggunaan tersebut.
Sebagai pilihan, wadah kaca, keramik, atau stainless steel dapat digunakan untuk menyimpan makanan, terutama makanan panas.
2. Wajan Antilengket
Wajan dengan lapisan antilengket memudahkan proses memasak karena makanan tidak mudah menempel. Namun, kondisinya harus diperhatikan.
Lapisan yang tergores atau rusak sebaiknya tidak terus digunakan. Selain itu, memanaskan wajan kosong pada suhu sangat tinggi dapat menyebabkan lapisan tertentu mengalami degradasi dan menghasilkan asap atau senyawa yang tidak diinginkan.
Beberapa bahan kimia yang digunakan pada kelompok pelapis tertentu, termasuk PFAS, juga menjadi perhatian dalam isu kesehatan lingkungan.
Jika lapisan wajan sudah mengelupas atau rusak berat, sebaiknya pertimbangkan untuk menggantinya. Peralatan berbahan stainless steel, kaca, atau keramik dapat menjadi alternatif tergantung kebutuhan memasak.
3. Peralatan Masak dari Plastik
Bukan hanya wadah penyimpanan, alat masak seperti spatula, sendok, dan centong juga ada yang dibuat menggunakan plastik.
Alat tersebut dapat bersentuhan langsung dengan makanan panas dalam waktu cukup lama. Pada kondisi tertentu, komponen dari material plastik dapat berpindah ke makanan, terutama jika alat sudah rusak atau digunakan tidak sesuai peruntukannya.
Karena itu, peralatan yang sudah retak, berubah bentuk, atau permukaannya mulai rusak sebaiknya diganti. Spatula dan sendok berbahan kayu atau stainless steel bisa menjadi pilihan alternatif.
4. Aluminium Foil
Aluminium foil banyak digunakan untuk membungkus makanan maupun membantu proses memasak. Namun, penggunaannya juga perlu disesuaikan dengan jenis makanan.
Kontak antara aluminium dan makanan tertentu, terutama makanan yang sangat asam atau asin, dapat meningkatkan kemungkinan perpindahan aluminium ke makanan.
Untuk mengurangi paparan yang tidak diperlukan, alternatif seperti kertas perkamen dapat digunakan pada kebutuhan tertentu.
5. Kompor Gas
Peralatan terakhir yang perlu diperhatikan bukan alat yang bersentuhan langsung dengan makanan, melainkan sumber panas untuk memasak.
Kompor gas menghasilkan berbagai produk pembakaran. Apabila ventilasi dapur buruk, polutan seperti nitrogen dioksida dan karbon monoksida dapat terakumulasi di udara dalam ruangan.
Paparan polutan dalam ruangan dapat berdampak pada kesehatan pernapasan dan menjadi perhatian khusus bagi orang yang memiliki sensitivitas terhadap kualitas udara.
Karena itu, pastikan dapur memiliki sirkulasi udara yang baik. Membuka jendela atau menggunakan exhaust fan dapat membantu mengeluarkan udara dari area memasak.
Perhatikan Kondisi Peralatan Dapur
Tidak semua peralatan berbahan plastik, aluminium, atau antilengket otomatis berbahaya. Yang terpenting adalah memilih produk yang sesuai standar, menggunakannya sesuai petunjuk, serta mengganti peralatan yang sudah rusak.
Untuk mengurangi risiko kontaminasi, hindari menggunakan alat yang permukaannya sudah mengelupas, retak, atau berubah bentuk. Selain itu, perhatikan pula suhu pemakaian dan jenis makanan yang bersentuhan dengan peralatan tersebut.
Dengan pemilihan dan penggunaan yang tepat, kebersihan makanan dapat lebih terjaga sekaligus mengurangi paparan zat yang tidak diinginkan.
