BERITAKAMPUS — Taipei – Sebuah skandal mengejutkan mengguncang Taiwan setelah seorang pelatih sepak bola wanita di universitas ternama diduga memaksa mahasiswanya untuk mendonorkan darah demi memenuhi persyaratan kelulusan akademik. Kasus ini memicu kemarahan luas di media sosial, dengan publik mempertanyakan integritas lembaga pendidikan dan dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
Pengakuan mengejutkan ini pertama kali diungkap oleh seorang mahasiswa bermarga Jian dari National Taiwan Normal University (NTNU), dikutip dari laman SCMP, Selasa (22/7/2025)
Dalam sebuah unggahan emosional, Jian mengklaim bahwa pelatih mereka, Zhou Tai-ying (61), seorang tokoh berpengaruh dalam dunia sepak bola Taiwan, memaksa mahasiswa untuk menjalani donor darah dalam jumlah yang tak wajar, sebagai syarat untuk memperoleh 32 SKS yang diwajibkan untuk kelulusan.
Jian mengungkapkan bahwa dirinya telah menjalani lebih dari 200 kali donor darah selama masa kuliah. Dalam beberapa periode, pengambilan darah dilakukan hingga tiga kali sehari selama 14 hari berturut-turut, dimulai dari pukul 5 pagi hingga 9 malam. Ia menyebut proses tersebut menyakitkan dan dilakukan oleh petugas tidak terlatih, yang menyamar sebagai bagian dari “proyek penelitian kampus”.
Tak hanya itu, Jian juga menuding bahwa subsidi dana riset yang seharusnya diberikan kepada mahasiswa malah dikumpulkan oleh Zhou sebagai “dana tim”. Dalam unggahannya, ia turut membagikan video dirinya menangis saat menjalani prosedur donor yang menyakitkan. “Hari kedelapan berturut-turut mereka tidak bisa lagi menemukan pembuluh darah di kedua lenganku. Mereka mencoba pergelangan tangan dan tetap gagal. Butuh enam kali percobaan. Saya hancur secara fisik dan mental,” tulisnya.
Pengakuan Jian memicu gelombang keberanian dari korban lainnya. Seorang mahasiswa yang tak ingin disebutkan namanya mengaku mengalami perundungan jangka panjang dari Zhou hingga harus mengambil cuti kuliah. Ia menyembunyikan semuanya dari orang tuanya karena takut membuat mereka marah.
Tragisnya, ayah mahasiswa tersebut meninggal dunia sebelum sempat mengetahui penderitaan anaknya.
“Kalau ayah tahu, dia pasti akan melawan pelatih itu. Tapi sekarang, semuanya sudah terlambat,” ucapnya. “Memaafkan? Mungkin di kehidupan berikutnya.”
Pelaku Diberhentikan oleh Pihak Kampus
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3346976/original/097901600_1610438790-blood-4951009_1920.jpg)
Setelah kasus ini mencuat, pada 13 Juli, pihak NTNU akhirnya mengumumkan bahwa Zhou telah diberhentikan dari semua peran administratif dan kepelatihan, serta dilarang memimpin tim olahraga apa pun. Universitas sempat mempublikasikan surat permintaan maaf tulisan tangan dari Zhou, yang berbunyi:
“Saya dengan tulus meminta maaf atas kerugian yang ditimbulkan kepada para mahasiswa, kepada fakultas, dan terhadap reputasi universitas. Saya menyesal atas tekanan emosional yang saya sebabkan dan ingin menyampaikan permintaan maaf sedalam-dalamnya.”Namun, surat tersebut kemudian dihapus dari media sosial resmi universitas, menimbulkan kecurigaan baru di kalangan publik. Hingga kini, Zhou belum memberikan tanggapan resmi, dan motif di balik praktik donor darah massal ini masih belum jelas. Siapa yang diuntungkan dari “pengumpulan darah” tersebut pun menjadi pertanyaan besar.
Pemerintah daerah telah memberikan sanksi administratif terhadap NTNU dan meminta kampus mengambil langkah perbaikan serius. Namun, respons ini dianggap terlalu ringan oleh banyak kalangan.
Media sosial pun ramai dengan kecaman.
“Menukar darah dengan SKS? 200 kali donor dan masih hidup sampai lulus? Ini seperti percobaan pembunuhan!” tulis seorang pengguna. Yang lain mempertanyakan: “Hanya pelatih yang disalahkan? Tidak mungkin ini idenya sendiri. Apa benar tidak ada pihak kampus lain yang terlibat?”
Kasus ini tidak hanya membuka luka baru di dunia pendidikan Taiwan, tetapi juga memperlihatkan betapa lemahnya perlindungan terhadap mahasiswa di bawah otoritas yang seharusnya mendidik mereka. Skandal ini kini dikenal luas sebagai tragedi “Darah Demi SKS”—sebuah simbol menyedihkan dari penyalahgunaan kekuasaan dalam dunia akademik.